MAKSUD HADIS "INNAMAL A'MALU BIL KHAWATIM
Pertanyaan:
Disebutkan dalam sebuah hadis "Innamal a'malu bil khawatim", apa maksudnya?
Jawaban:
oleh al-Ustadz Qomar Z.A, Lc hafizhahullah
Hadis tersebut artinya "Sesunguhnya amal-amal itu tergantung penutupannya". Maksudnya yang menjadi penentu keshalihan seseorang itu adalah keadaan di akhir hidupnya, apakah ia meninggal dalam keadaan baik (Khusnul Khotimah) meskipun amalan sebelumnya adalah kejelekan ataukah sebaliknya meninggal dalam keadaan jelek (Su'ul Khotimah) meskipun amalan sebelumnya adalah kebalikannya.
Apabila meninggalnya dalam keadaan baik maka dia akan masuk surga, sebaliknya jika meninggal dalam keadaan jelek maka ia terancam neraka.
Namun demikian, para ulama mengatakan bahwa sesungguhnya penutup amal adalah WARISAN DARI AMALAN-AMALAN SEBELUMNYA.
Sehingga mungkin ada sebagian orang yang nampak beramal dengan amalan yang baik, akan tetapi ternyata di akhir hayatnya ia mendapat penutup yang buruk. Mengapa ini bisa terjadi? Bisa jadi ia sebetulnya bukanlah orang baik secara batin (sesuatu yang tersembunyi) meskipun tampak dari luar ia seorang yang baik. Pada akhirnya terlihat bahwa dia bukan seorang yang baik dengan penutupan yang jelek.
Demikian pula kemunginan sebaliknya, ada seorang yang tampak dari luar tidak baik, akan tetapi ketika bersendiri ia sering beramal salih dan batinya juga salih. Akan tetapi mungkin secara lahir ia terlihat jelek ketika mungkin diketahui terjatuh dalam kemaksiatan, akan tetapi Allah maha tahu hakikat yang sebenarnya tentang dirinya sehingga padanya kemudian ada penutup yang baik.
Yang jelas Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan baik hamba-Nya. Maka tentu tidaklah seseorang yang sepanjang hidupnya ikhlas, juga kuat dalam mengikuti sunnah tiba-tiba mendapatkan Su'ul Khotimah, tentu ini tidak sesuai dengan hikmah-Nya. Namun semuanya adalah rahasia Allah, hanya Allah saja yang tahu.
Allahu'alam.
Sumber: Majalah Qudwah Edisi 49 Vol. 05 1438 H hal. 94
Disebutkan dalam sebuah hadis "Innamal a'malu bil khawatim", apa maksudnya?
Jawaban:
oleh al-Ustadz Qomar Z.A, Lc hafizhahullah
Hadis tersebut artinya "Sesunguhnya amal-amal itu tergantung penutupannya". Maksudnya yang menjadi penentu keshalihan seseorang itu adalah keadaan di akhir hidupnya, apakah ia meninggal dalam keadaan baik (Khusnul Khotimah) meskipun amalan sebelumnya adalah kejelekan ataukah sebaliknya meninggal dalam keadaan jelek (Su'ul Khotimah) meskipun amalan sebelumnya adalah kebalikannya.
Apabila meninggalnya dalam keadaan baik maka dia akan masuk surga, sebaliknya jika meninggal dalam keadaan jelek maka ia terancam neraka.
Namun demikian, para ulama mengatakan bahwa sesungguhnya penutup amal adalah WARISAN DARI AMALAN-AMALAN SEBELUMNYA.
Sehingga mungkin ada sebagian orang yang nampak beramal dengan amalan yang baik, akan tetapi ternyata di akhir hayatnya ia mendapat penutup yang buruk. Mengapa ini bisa terjadi? Bisa jadi ia sebetulnya bukanlah orang baik secara batin (sesuatu yang tersembunyi) meskipun tampak dari luar ia seorang yang baik. Pada akhirnya terlihat bahwa dia bukan seorang yang baik dengan penutupan yang jelek.
Demikian pula kemunginan sebaliknya, ada seorang yang tampak dari luar tidak baik, akan tetapi ketika bersendiri ia sering beramal salih dan batinya juga salih. Akan tetapi mungkin secara lahir ia terlihat jelek ketika mungkin diketahui terjatuh dalam kemaksiatan, akan tetapi Allah maha tahu hakikat yang sebenarnya tentang dirinya sehingga padanya kemudian ada penutup yang baik.
Yang jelas Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan baik hamba-Nya. Maka tentu tidaklah seseorang yang sepanjang hidupnya ikhlas, juga kuat dalam mengikuti sunnah tiba-tiba mendapatkan Su'ul Khotimah, tentu ini tidak sesuai dengan hikmah-Nya. Namun semuanya adalah rahasia Allah, hanya Allah saja yang tahu.
Allahu'alam.
Sumber: Majalah Qudwah Edisi 49 Vol. 05 1438 H hal. 94
Tidak ada komentar: